RAMA DAN SHINTA
Disaat
ufuk terbit dari timur, hiduplah dua orang sejoli. Mereka saling mencintai satu
sama lain, saking cintanya mereka lupa mandi, lupa makan bahkan kadang-kadang
lupa nama orang tua mereka masing-masing. Sepasang merpati ini bertemu disebuah
taman yang indahnya bagaikan Mesopotamia dan bahkan menurut pandangan
orang-orang awwam indahnya bagaikan Heaven in the world. Sang merpati jantan
telah melihat keelokkan kecantikan tubuh merpati betina sejak 1 tahun yang lalu
dan akhirnya, Merpati jantan menyatakan cintanya dibawah pohon yang rindang di
taman yang mereka sama-sama bilang sebagai heaven in the world (alias dibawah
pohon beringin ditaman sekolah mereka).
Merpati jantan itu bernama Rama
Sedayu Alam. Seorang rupawan siswa SMA, idaman para dara-dara manis
disekolahnya. Seorang siswa idaman guru-guru sekolahnya, bukan idaman dari segi
kecerdasan intelektualnya melainkan kata-katanya yang ramah tamah saat
berbicara kepada orang yang lebih tua. Namun dikalangan anak tongkrongan sekolah, Rama seorang
playboy, gauler (sebutan anak-anak gaul dimasanya), rockker, rege, tapi
kadang-kadang dangdutmania. Hampir seluruh kehidupan-kehidupan bebas, terikat,
malam, siang, pagi, dst sudah dijajalinnya namun sekarang dia bukan seorang
playboy lagi karena dia telah menemukan separuhnya ruhnya yaitu kekasih
idamannya bernama Shinta Purwaningsih.
Shinta (merpati betina yang
dimaksud) adalah seorang siswi SMA (satu sekolah dengan Rama) yang cantik,
sexy, centil, bahenol, bohai, trendy, dan sedikit phedophil (kata beberapa
orang sich). Dia adalah anak seorang Kiai yang ternama di sekitar rumahnya.
Wadon yang satu ini pada saat disekolah maupun saat bertemu orang tuanya, dia
berperilaku sebagai wanita timur yang apa adanya (sopan santun, ramah tamah, dsb)
walaupun dia belum memakai kerudung (jilbab atau sejenis penutup kepala).
Rupanya, itu hanya kedok semata, Shinta bergaul dilingkungan luar (selain
sekolah dan rumah) terkenal dengan wanita yang bebas, bebas meminum minuman
keras, merokok, nongkrong-nongkrong dipinggir jalan, aktif di diskotik, kafe,
karokean dan pernah mengunjungi rumah remang-remang. Namun setelah bertemu
Rama, dia mengurangi aktifitasnya (kalau nongkrong sich wajib sama Rama) karena
hari-harinya selalu bersama Rama, TIADA HARI TANPA RAMA.
Siang telah tiba, sekolahpun telah
bubar, namun ada beberapa siswa-siswi sekolah tersebut yang belum pulang (atau
nongkrong) ke rumah. Mereka bernama Ridho Pangkali (Ridho), Sofyan Mustaqim
(Sofyan), Sugeng Djojohadikusumo
(Sugeng), Mustika Indah Permata (Indah), Fira Aurellia (Aurel) dan Frida
Nostalgia (Frida). Keenam siswa-siswi ini merupakan pengurus ROHIS (Rohani
Islam) disekolahnya. Mereka memang sering pulang paling lama ketimbang
siswa-siswi yang lain, bukan untuk ngerumpi hal-hal yang bersifat tidak benar
(gosip) melainkan mereka pergi ke masjid sekolah untuk merapatkan acara-acara
ROHIS yang akan dilaksanakan sesuai program kerja. Kebesokkan harinya Indah,
Aurel dan Frida bertemu dengan Shinta, namanya cewe ABG apalagi teman sekelas
biasalah ngomongin soal cowo, pelajaran, tentang sekolah, guru, dsb. Pada saat
pembicaraan berlangsung, Aurel mengajak Shinta untuk ikut acara ROHIS minggu
ini tentang talkshow dengan tema “kenakalan remaja zaman sekarang”. Namun
Shinta menolak dengan nada yang sedikit tinggi karena menurutnya “ngapain gw
ikut acara begituan, ngantuk, bête, kayak ibu-ibu haji mendingan gw shopping
sama Rama sekalian nonton bioskop”. Dengan hati yang sedikit sedih ketiga
wanita tersebut menyelesaikan pembicaraannya dengan Shinta, pembicaraan ditutup
dengan salam. Bel pulang telah berbunyi, seperti biasa pengurus ROHIS pulang
agak lama ketimbang siswa-siswi yang lain.
3 jam setelah bel pulang berbunyi,
Aurel melangkahkan kakinya keluar dari gerbang sekolah untuk naik angkutan umum
yang menuju kearah rumahnya. Pada saat berjalan, Aurel melihat dari jauh,
dipersimpangan jalan sana dia melihat orang yang mirip dengan Shinta dan Rama
serta segerombolan anak-anak tongkrongan lainnya yang sedang mabuk dan merokok.
Dalam peristiwa tersebut, hati kecil Aurel berkata “masa sich mereka adalah
Shinta dan Rama ? Bukannya mereka adalah siswa-siswi yang sangat dicintai oleh
guru ? Apalagi Shinta, diakan anak seorang Kiai yang tersohor ? AH… mana mungkin”. Dalam perjalanan pulang
menuju rumah tercinta yang pastinya juga naik angkot tercinta, dihati kecil
Aurel masih membahas peristiwa tadi dan akhirnya dia memutuskan untuk
menanyakan hal tersebut ke Shinta besok disekolah. Keesokkan harinya, pada saat
istirahat, Aurel menemui Shinta dan menanyakan hal tersebut apakah benar atau
salah tapi Shinta menanggapinya dengan becanda, :”masa sich gw, mana
mungkinlah, gwkan siswi yang dikenal oleh guru-guru apalagikan loe tahu
sendiri, gwkan anak seorang Kiai, mana mungkin!”. Mendengar pernyataan Shinta, Aurel dengan hati yang lega
percaya dengan pernyataan tersebut. 4 hari kemudian, Indah melihat Shinta dan
Rama ditaman sekolah, berdua-duaan dan saling mesra bagaikan sepasang kekasih,
Indah merasa kaget setahu dia dan hampir seluruh siswa-siswi disekolahnya mereka
berdua belum pernah menjalin kasih (pacaran) apalagi Shinta dengan lebel anak Kiai
pastinya tidak akan diajarkan hal tersebut. Melihat hal tersebut, Indah menemui
Aurel dan Frida dan menceritakan peristiwa yang dilihat oleh mata dan kepalanya
sendiri. Akhirnya, mereka bertiga berinisiatif untuk berkunjung kerumah Kiai
Maja (ayah dari Shinta) dan menceritakan hal tersebut kepada Kiai setelah
pulang sekolah.
Setelah pulang sekolah, ketiga
wanita sholehah tersebut bergegas kerumah kiai Maja untuk menceritakan perilaku
anaknya selama ini (sesuai dengan fakta yang mereka temukan dilapangan).
Sesampainya dirumah kiai Maja, mereka bertiga disambut dengan hangat layaknya
bintang film Hollywood oleh Kiai Maja dan istrinya. Hampir seperempat jam
berlalu, mereka bertiga menyatakan maksud dan tujuan mereka berkunjung kesini
selain silahturrahim. Indah yang mengkomandoi pembicaraan kepada Kiai Maja
tentang perilaku Shinta selama ini. Mendengar hal tersebut, Kiai Maja sangat
terkejut dan sempat ada pikiran bahwasannya anak-anak ini (Indah, Aurel, Frida)
berbohong, namun dengan hati yang tenang dan pikiran yang jernih, Kiai Maja
mengucapkan terima kasih atas informasinya “tapi saya terus terang belum
percaya sepenuhnya, insya Allah saya akan mencari kebenaran secepatnya” kata Kiai
Maja. Setelah Indah, Aurel, dan Frida pulang dari rumah Kiai Maja, Kiai Maja
dan istrinya langsung beranjak kekamar Shinta untuk mencari bukti otentik.
Rupanya benar, Kiai Maja menemukan sebatang lisong (rokok) dan rok mini
dilemari Shinta. Dengan hati yang kaget dan jengkel, Kiai Maja hampir pingsan
melihat bukti tersebut dan beliau akan menanyakan hal ini nanti malam oleh
Shinta (memang akhir-akhir ini Shinta pulang sekolah agak malam alasannya
belajar kelompok, tapi belajar kelompok kok sering). Malampun telah tiba, gadis
aduhai (Shinta) tersebut pulang dengan dandanan yang sedikit berantakan. Setelah
mandi dan ganti pakaian, Shinta dipanggil oleh ayahnya untuk berbicara
sebentar, Shinta sempat menolak, alasannya mau tidur, capek baru pulang tapi
dia menghargai ayahnya dan dia menemui ayah dan umminya diruang tamu rumahnya.
Kiai Maja mengintrogasinya dari alasan Shinta sering pulang agak malam sampai
informasi yang disampaikan oleh Indah, Aurel dan Frida tentang perilaku negatif
yang dilakukannya selama ini. Dengan nada yang ogah-ogahan dan jawaban yang
tengil, Shinta membantah itu semua “itu hanya gossip belaka”katanya. Wajah Kiai
Maja agak sedikit memerah dan puncak kemarahannya, Kiai Maja memukul meja dan
dengan nada yang keras dia menunjukkan sebatang lisong dan rok mini yang
ditemukannya dikamar Shinta. Shinta sempat kaget dan diam sejenak serta keluar
keringat dingin dari dahinya tapi dia tetap berpegang teguh bahwasannya
sebatang lisong dan rok mini bukan miliknya melainkan milik temannya. Mendengar
jawaban anaknya yang ngawur, Maja tetap menaikkan nada pembicaraannya dan
ending dari kemarahan Maja adalah mendaratnya tangan Maja dipipi Shinta. Shinta
langsung nangis dan lari kekamarnya dengan membanting pintu kamarnya.
Keesokkan paginya disekolah, Shinta
dengan wajah yang memerah dan berjalan cepat ingin menemui Indah, Aurel dan
Frida. Akhirnya Shinta menemui ketiga wanita tersebut, dengan memanggil secara
berteriak salah satu nama dari ketiga wanita tersebut (Indah…………!), Shinta
menghampiri ketiga wanita sholehah dan mengeluarkan jurus ampuhnya yaitu ingin
mendaratkan tangannya ke pipi Indah. Pada saat tangan Shinta mau mendarat
kepipi Indah tiba-tiba terdengar suara dari belakang Shinta “ada apa ini ?”
Rupanya itu suara ibu Wati (salah satu guru). Ibu Wati menyuruh siswa-siswi
bubar untuk masuk kelas masing-masing dan Shinta mengurungkan niatnya untuk
menggampar Indah. Setelah Bel pulang berbunyi, Shinta berkeinginan menemui Rama
di basecamp (tempat mereka nongkrong) sekalian Shinta ingin tinggal selamanya
dengan Rama (alias minggat dari rumah). Dalam perjalanan menuju basecamp,
Shinta mengalami kecelakaan yang cukup parah yaitu dia keserempet motor dan
kakinya hampir mau patah (retak) namun yang menyerempet langsung kabur entah
kemana. Pada saat Shinta berteriak meminta tolong, tiba-tiba Frida mendengar
jeritan tangisan Shinta dan membantunya berjalan menuju rumah Frida (kebetulan
rumah Frida tidak jauh dari TKP). Dalam waktu bersamaan, di basecamp, Rama dan
Jhony (salah satu teman tongkrongan Rama) lagi bermain judi. Pada saat
permainan berlangsung, Rama bermain curang dan ketahuan dengan Jhony. Jhony
menegur Rama dengan nada yang cukup tinggi tapi Rama menghiraukannya. “Pokoknya
gw nggak mau nerusin lagi, loe mainnya curang” kata Jhony. “Apa loe bilang CURANG ? bilang aja loe kalah lawan gw”
kata Rama. Setelah itu, Jhony naik darah dan akhirnya terjadi perkelahian yang
sengit antara Rama dan Jhony yang dipimpin oleh wasit Mudjiono (kayak tinju aja). Setelah beberapa
ronde telah dilewati, akhirnya Jhonny memenangkan pertandingan (perkelahian) dengan menyisakan pisau
diperut Rama, kemudian Jhony dan Mudjiono langsung meninggalkan Rama yang
tekapar tidak berdaya. Beberapa saat kemudian, Rama dibawa ke rumah sakit oleh
warga sekitar dan dirawat sekitar 1 minggu lamanya.
(Kembali ke kondisi Shinta)
Sesampainya dirumah Frida, Frida langsung membawa Shinta ketempat tidurnya dan
lukanya-lukanya dicuci kemudian dikompres oleh air hangat supaya tidak infeksi.
Setelah pertolongan pertama telah dilakukan, Shinta pun terbaring lesu dan
melepaskan kelelahannya diranjang Frida (tidur). Pada saat Shinta tertidur,
Frida langsung menelpon dr. Susi (dokter pribadi keluarga Frida) untuk
memeriksa Shinta apakah lukanya perlu dirawat dirumah sakit sekaligus Frida memberi
kabar kepada Kiai Maja dan istrinya (orang tua Shinta) bahwasannya Shinta
mengalami kecelakaan dan sekarang sudah ada dirumah Frida. Sekitar 30 menit
berlalu, dr. Susi tiba dirumah Frida dan langsung memeriksa Shinta. Pada saat
diperiksa, Shinta terbangun dan menanyakan kabarnya apakah dirinya baik-baik
saja atau tidak. Setelah pemeriksaan hampir selesai (hanya tinggal dr. Susi memberikan
sarannya), tiba-tiba Kiai Maja beserta istri datang dan langsung menemui
Shinta, Kiai Maja dan istri berdiri di pintu kamar Frida dan menanyakan kabar
anaknya. “Bagaimana kabar anak saya dok ? Apa yang terjadi dengan dirinya?”
Kata Kiai Maja. ‘Tenang pak, Alhamdulillah keadaan anak bapak baik-baik saja
cuma tulang kaki kirinya mengalami keretakan sekitar satu bulan, insya Allah
baru kembali normal. Saran saya mendingan Shinta dibawa kerumah sakit dan
dirawat disana dan jangan lupa ditunggu ya pak ?” Kata dr.Susi. Dengan cepatnya
Shinta menyambar pembicaraan, “Tidak mau, aku mau dirawat disini saja dan
ditunggu sama Frida, please dok please !”. “Its okay, no problem but ente harus
mengikuti peraturan yang berlaku yaitu setiap minggu harus check up ke rumah
sakit dan dirumah latihan jalan, sementara ini kamu harus pakai kursi roda
dulu”. Kata dr. Susi. Setelah dr. Susi beranjak pergi dari rumah Frida, Kiai
Maja mengajak Shinta untuk pulang kerumahnya namun Shinta menolak mentah-mentah
saran dari kiai tersohor tersebut. Frida langsung memotong pembicaraan Kiai
Maja dengan Shinta, “Mohon maaf pak Kiai biar Shinta selama sebulan ini saya
yang merawat, tapi jangan khawatir, walaupun orang tua saya selama tiga bulan
kedepan tidak ada dirumah karena ada tugas dakwah di Australia, Insya Allah
Indah dan Aurel juga membantu merawat Shinta disini”. “Syukron jazakallah nak
atas bantuannya, mudah-mudahan Allah
membalas kebaikan antum dan teman-teman antum”. Kata Kiai Maja.
Detik berganti detik, menit berganti
menit, jam berganti jam, dan hari berganti hari, Frida, Indah, dan Aurel dengan
rasa cinta kasih seorang sahabat Shinta dirawat dengan tulus hingga setiap harinya mengalami kemajuan
setahap demi setahap. Rasa cinta kasih dan tulus ketiga wanita sholehah ini
melebihi rasa cinta kasih seorang suami terhadap istrinya. 5 hari kemudian, Ada seorang tamu yang menurut Shinta tamu yang
tak diundang, dia adalah wanita matang (dewasa) berpakaian muslim dengan jilbab
dikepala dengan warna yang ngejreng.
Dia bernama Caroline Injestsky (blasteran Rusia-Brebes). Pada saat dia
mengucapkan salam didepan pagar rumah Frida, ketiga wanita sholehah ini
menjawab salamnya dan menyambutnya dengan semangat dan hati yang gembira.
Kemudian Aurel memperkenalkan Shinta kepada Caroline, “Kak kenalkan, ini Shinta teman sekolah
kita”. Langsung Caroline menjabat tangan Shinta dan menyebutkan namanya, “Caroline”
kemudian Shinta menjawab, “Shinta”. “Bagaimana kabarnya, apa sudah mendingan?”
Sahut Caroline. “Alhamdulillah baik-baik saja sudah cukup banyak kemajuan kok”
Sambut Shinta. “ Silahkan duduk kak, sebentar lagi kita siap kok” Kata Indah.
Kemudian dengan nada berbisik Shinta menanyakan ke Frida, “Frid, itu siapa ?
Teman yaa, kok lebih senior ?”. Frida menjawab, “ Oh itu guru ngaji kita
bertiga, kita ngaji setiap minggu dan biasanya ngaji disini, kenapa memang kamu
mau ikut ?”. “Makasih dech, kapan-kapan aja”. Sahut Shinta. Selama Shinta
menginap dirumah Frida, Caroline sering berkunjung kerumah Shinta baik menjenguk
Shinta maupun mengaji dirumah Frida bersama para binaannya (Indah, Frida,
Aurel). Suatu ketika Shinta mengintip pengajian Caroline, dan pada saat itu
sedang membahas materi tentang pacaran dalam Islam. “Bahwasannya Islam tidak
pernah mengajarkan pacaran karena pacaran adalah tindakan yang mendekati zinnah
(wala takrabu zinnah) dan bisa menjadi faktor terkuat pemicu terjadi zinnah.
Maksudnya pacaran dalam Islam adalah menikah dulu baru melakukan apa itu yang
dimaksud dengan pacaran. Orang Islam
yang melakukan pacaran berarti Islamnya dipertanyakan, karena larangan pacaran
sudah jelas di Al-Quran wala takrabul zinnah yang artinya Jangan Mendekati Zinnah”. Kata
Caroline. Mendengar hal tersebut, hati nurani Shinta tersentuh dan Shinta
menangis atas kelakuannya selama ini. Pada saat hari yang ke-28, Shinta
memanggil Frida karena ingin membicarakan sesuatu, “Frid aku minta maaf ya
selama ini aku telah berburuk sangka dan berperilaku kasar kepada kalian
bertiga, selama aku menginap dirumahmu banyak sekali pelajaran yang aku
dapatkan. Pelajaran yang terbesar adalah pengajian yang dipimpin oleh kak
Caroline yang berlangsung dirumahmu, walaupun aku tidak ikut secara de facto
tapi selama ini aku mengintip dan mendengarkan apa saja yang disampaikan oleh
kak Caroline. Sekarang aku tobat, nanti pada saat masuk sekolah aku berjanji
tidak akan mengulangi perilaku aku yang dulu dan yang lebih penting lagi aku
akan berjilbab sampai umurku memisahkan aku dengan jilbabku”. Mendengar
pernyataan Shinta, Frida langsung mengucurkan air matanya dan mengucapkan
subbhanallah, “terima kasih ya Allah engkau telah menyadarkan temanku ke jalan
yang benar”.
Sebulan telah berlalu, akhirnya
Shinta telah sembuh dari penyakit yang membuatnya menuju hidayah Allah. Pada
saat Shinta ingin memasuki kelas dengan jiwa dan dandanan yang baru, Rama
menyapanya “Shinta ! Bagaimana kabarmu sayang, apa kamu sudah sembuh total”.
Shinta menjawab, “ Alhamdulillah sekarang aku sudah sembuh total, katanya kamu
juga mengalami kecelakaan ya, kamu juga sudah sembuh total. Oh ya Ma, aku mau
ngomong serius sama kamu”. “Ngomong aja sayang ngak apa-apa kok” jawab Rama.
Dengan hati yang sedu dan air mata yang berlinang-linang Shinta menyatakan
sesuatu, “Selama ini kita telah melakukan hal yang salah, kita sudah
menyusahkan dan melibatkan banyak orang dikehidupan pribadi kita. Banyak sekali
dosa-dosa yang telah kita perbuat dari yang kecil hingga yang besar, untung
saja Allah Swt tidak mencabut umur kita pada saat kita sedang berumuran dosa,
berarti Allah Swt sayang kepada kita, kita disuruh tobat sehingga kita dapat
masuk ke surganya. Aku sekarang sudah tobat Rama, aku tidak mau melakukan
hal-hal bodoh yang selama ini kita lakukan dimasa lalu. Demi kebaikan kita,
hubungan kita berakhir sampai disini karena Islam tidak mengajarkan hal pacaran
karena pacaran sama dengan zinnah. Dengan kemurahan hati, tolong kamu
mengkabulkan permohonan aku”. Kemudian Rama menjawab dengan logat cengengesan tapi sebal, “eh… baik kalau
itu mau kamu, disangka kamu setia kepadaku, kamu pernah bilang kepadaku kamu
mau hidup selamanya denganku, rupanya kesetiaanmu hanya sampai disini saja, KITA PUTUS SEKARANG JUGA”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar